Museum opens only by Appointment.

62 024 831 5004

Pastor Dionysius Opdenkamp pada hari Minggu 7 November 1915 meninggal di Malang. Hanya dalam waktu satu setengah bulan, dari sakitnya kemudian ia meninggal. Hidup di Malang ini seperti kita diuji oleh Tuhan.

Pastor Opdenkamp' sebenarnya meninggal karena kelelahan. Bukan berarti dia sangat tua, tetapi dia tidak pernah bersukacita dalam tubuh yang benar-benar sehat. Ini adalah penghargaan besar bahwa, meskipun demikian, ia selalu tetap dalam bergembira sampai napas terakhirnya. Dia bahkan sempat memberikan retret kepada Persaudaraan Surabaya selama beberapa hari, ketika tiba-tiba kelemahan besar menyusulnya. Para dokter juga tidak dapat menemukan apa pun selain; benar-benar lelah, tidak ada harapan lagi! Penyakitnya ia rasakan hanya berlangsung singkat.

Penuh dengan kesalehan dan penyerahan diri kepada kehendak Allah yang kudus, Ia menerima Perminyakan terakhir untuk tampil lebih baik di hadapan-Nya, yang akan menuntut pertanggungjawaban atas perbuatan semua orang.

Pater Opdenkamp, seperti tiga imam yang mendahuluinya begitu cepat setelah satu sama lain, adalah seseorang yang sangat ceria. Ia sepenuhnya memahami «Un saint triste est un triste saint» (santo yang berduka adalah santo yang berdukacita) dari St. Fransiskus de Sales; Dan dia memastikan bahwa dia bukan "Saint Triste" atau "Triste Saint." semua yang cocok. Buah pemikiran yang pernah kita kenal, dapat membuktikannya. Semarang, Padang, Batavia, Magelang adalah stasinya sebelum Malang. Dia belum dilupakan di tempat sebelumnya, lebih dari sekali kami mendengar kenalan lama dengan minat khusus bertanya tentang Pastor Opdenkamp yang ceria.

Sejak lahir, almarhum berasal dari Brabanter Utara. Di ravestein, stedeke Ravestein, dia pertama kali melihat dunia. Di sana ia juga studi di Kolese untuk belajar Latin pada saat itu. Pada 26 September 1871 ia masuk Serikat Jesus, sedangkan 31 Agustus 1853 adalah hari ulang tahunnya. Dia hidup selama dari 62 tahun, di mana lebih dari 44 tahunnnya dihabiskan sebagai religius dan lebih dari 28 dari 30 tahun sebagai imam di Hindia Belanda, terus menerus, tanpa pernah melihat tanah airnya lagi.

Riwayat Penugasan

Pastor Paroki Gedangan Semarang 1887-1892
Pastor Paroki Padang Sumatera Barat 1892-1898
Pastor Paroki Katedral Jakarta 1898-1901
Pastor Paroki St. Ignatius Magelang 1901-1908
Pastor Paroki Malang Malang 1908-1915